Kultum Saat Ini
Kuliah tujuh menit atau kultum, memerlukan banyak bahan untuk dirangkai menjadi untaian yang berkronologis dan menarik bagi pendengar.
berikut kami memaparkan contoh pembukaan isi dan penutup yang bisa dijadikan rujukan buat kultumer untuk dijadikan sebagai acuan:
Contoh pembukaan 1
إِنَّ
الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ
سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ
وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ
اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Segala puji bagi
Allah, kita memuji-Nya dan meminta pertolongan, pengampunan, dan
petunjuk-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan
keburukan amal kita. Barang siapa mendapat dari petunjuk Allah maka
tidak akan ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang sesat maka
tidak ada pemberi petunjuknya baginya. Aku bersaksi bahwa tidak ada
Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Ya
Allah, semoga doa dan keselamatan tercurah pada Muhammad dan
keluarganya, dan sahabat dan siapa saja yang mendapat petunjuk hingga
hari kiamat.
Contoh pembukaan 2
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، فَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى
عَنْهُ وَحَذَّرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ اَلْوَاحِدُ
الْقَهَّاُر، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ
اْلأَبْرَارِ. فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ وَالنُّشُوْرِ.
أَمَّا بَعْدُ؛
Segala puji hanya milik Allah
dengan pujian yang banyak sebagaimana Allah perintahkan, maka
berhentilah dari segala yang Allah larang dan yang Allah peringatkan.
Aku bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah Yang Esa
dan Perkasa, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan
Allah yang menjadi pemimpin bagi semua manusia, shalawat dan salam Allah
atas beliau, atas keluarga, shahabat dan orang-orang yang setia
mengikuti petunjuknya sampai hari kebangkitan dan hari kembali."
Kultum seputar bulan Ramadhan
Hadirin wal hadirot Jamaah Sholat Tarawih yang berbahagia
Sebuah
nikmat yang sangat besar adalah kita masih diberi kesempatan oleh Allah
untuk bernafas di bulan Ramadhan ini. Sehingga kita bisa melaksanakan
aktifitas-aktifitas yang bernilai ibadah, khususnya puasa.
Hadirin wal hadirot Jamaah Sholat Tarawih yang berbahagia
Hadirin wal hadirot Jamaah Sholat Tarawih yang berbahagia
Umat
Islam di seluruh dunia kembali menyambut datangnya bulan Ramadhan.
Kalau kita perhatikan, di bulan ini ada tiga terminologi agama yang
sering muncul dibicarakan baik oleh kalangan ulama, ustadz, kyai dalam
pengajian-pengajian, ataupun masyarakat kebanyakan. Ketiga terminologi
itu adalah Al Quran, puasa (shaum) dan taqwa.
Mengapa
ketiga terminologi itu sering muncul dalam berbagai kajian Ramadhan?
Tidak bisa dipungkiri bahwa ketiga term ini mempunyai hubungan yang
saling mendukung satu sama lain. Bukankah Al Quran sebagai firman Tuhan
jelas diturunkan pada bulan puasa? Sementara berpuasa diwajibkan karena
ada firman Tuhan dalam Al Quran? Adapun terminologi ketiga “taqwa atau
bertaqwa” adalah esensi dan tujuan utama diwajibkannya kaum beriman
untuk berpuasa, yang oleh Allah disebut pada akhir ayat tentang perintah
berpuasa: “agar kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa”.
Hadirin wal hadirot Jamaah Sholat Tarawih yang berbahagia
Oleh
karena itu, dapat kita ketahui bahwa salah satu hikmah dari puasa
Ramadhan adalah dapat mengantarkan umat menuju taqwa. Sebagaimana firman
Allah dalam surat al-Baqoroh ayat 183:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa,”
Kata
taqwa ( التَقْوَى ) berasal dari Wiqoyah ( الوِقَايَة ) yaitu kalimat
yang menunjukkan penolakan terhadap sesuatu. Al-Wiqoyah berarti apa yang
menghalangi sesuatu.
Maka, taqwa seorang hamba kepada Robbnya
berarti menjadikan penghalang antara dia dengan apa yang ditakuti dari
Robbnya berupa kemurkaan, kemarahan dan siksaanNya yaitu dengan cara
menta’atiNya dan menjauhi maksiat kepadaNya.
Secara bahasa arab, taqwa berasal dari fi’il ittaqa-yattaqi,
yang artinya berhati-hati, waspada, takut. Bertaqwa dari maksiat
maksudnya waspada dan takut terjerumus dalam maksiat. Secara istilah,
definisi taqwa sebagaimana yang diungkapkan oleh Thalq Bin Habib
Al’Anazi:
العَمَلُ بِطَاعَةِ اللهِ،
عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، رَجَاءَ ثَوَابِ اللهِ، وَتَرْكِ مَعَاصِي اللهِ،
عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، مَخَافَةَ عَذَابِ اللهِ
“Taqwa adalah mengamalkan ketaatan kepada Allah dengan cahaya Allah (dalil), mengharap ampunan Allah, meninggalkan maksiat dengan cahaya Allah (dalil), dan takut terhadap adzab Allah”
“Taqwa adalah mengamalkan ketaatan kepada Allah dengan cahaya Allah (dalil), mengharap ampunan Allah, meninggalkan maksiat dengan cahaya Allah (dalil), dan takut terhadap adzab Allah”
Demikianlah sifat orang yang
bertaqwa. Orang yang bertaqwa beribadah, bermuamalah, bergaul,
mengerjakan kebaikan karena ia teringat dalil yang menjanjikan ganjaran
dari Allah Ta’ala. Demikian juga orang bertaqwa senantiasa takut
mengerjakan hal yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, karena ia
teringat dalil yang mengancam dengan adzab yang mengerikan. Sehingga
orang yang bisa melakukan hal tersebut akan dimuliakan di sisi Allah.
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian” (QS. Al Hujurat: 13)
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian” (QS. Al Hujurat: 13)
Hadirin wal hadirot Jamaah Sholat Tarawih yang berbahagia
Dalam ayat 2-4 Surat al-Baqoroh, Allah menyebutkan tentang cirri-ciri orang yang bertaqwa:
Artinya: “Kitab
(Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang
bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan
shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada
mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah
diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu,
serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.”
Kalau
dikaitkan dengan pengertian taqwa dari ayat tersebut, maka ciri-ciri
orang bertaqwa sebagai essensi berpuasa menurut al-Quran adalah sebagai
berikut:
Pertama, ciri orang bertaqwa adalah orang yang beriman kepada yang ghaib.
Nampaknya Allah memang mendesain puasa sebagai sarana latihan agar
orang-orang yang beriman bertambah kepercayaannya kepada yang ghaib. Dan
pusat keghaiban adalah Allah itu sendiri. Dengan keimanan kepada adanya
Dzat yang ghaib yang Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha
Memperhatikan segala gerak-gerik manusia, seseorang secara tidak
langsung dilatih untuk selalu berbuat baik. Ketika berpuasa, setiap
orang beriman sedang di latih untuk menghadirkan yang ghaib “Tuhan”
dalam segala ruang dan waktu. Bukankah seseorang yang sedang berpuasa
tatkala menyendiri di ruangan kantor, kamar yang terkunci atau tempat
lain yang tidak dilihat orang bisa saja makan, minum dan berpura-pura
bahwa dia sedang berpuasa ketika dihadapan orang banyak. Dengan adanya
kesadaran kehadiran yang ghaib atau Allah dalam diri orang yang
berpuasa, kecenderungan untuk berbuat curang atau berbohong akan
terhindarkan, dan semangat untuk selalu berbuat yang terbaik akan tumbuh
karena ada kontrol sosial yang melekat dalam dirinya.
Kedua, orang yang bertaqwa adalah orang yang selalu mendirikan shalat.
Karakter taqwa ini pun dalam bulan puasa sedang digembleng oleh Allah.
Di bulan puasa umat Islam bukan hanya dilatih untuk menjalankan shalat
yang sipatnya wajib, bahkan shalat yang sunnah seperti shalat malam (tarawih)
sangat dianjurkan di bulan ini. Harapannya, setelah puasa, fungsi
shalat sebagai pencegah dari perbuatan keji dan munkar bisa
direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari diluar ramadhan.
Karakteristik ketiga disebut orang bertaqwa adalah orang yang menafkahkan sebagian rizkinya.
Di bulan ramadhan ini, anjuran untuk zakat, infaq dan shadaqah
betul-betul ditekankah. Dengan menggandakan pahala yang berlipat-lipat,
Allah sedang melatih keshalihan sosial seorang Muslim di bulan ramadhan.
Dengan harapan kesadaran sosial menafkahkan harta untuk membantu fakir
miskin terus dijalankan oleh orang Islam diluar ramadhan.
Keempat, disebut orang bertaqwa kalau seseorang mempercayai bahwa Allah telah menurunkan kitab suci kepada Muhammad (Al-Quran) dan kitab-kitab
yang turun sebelum Rasul terakhir itu. Nampaknya Allah ingin melatih
orang Islam di bulan ramadhan agar sadar akan adanya tuntunan hidup
menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, yaitu Al-Quran. Membaca dan
mempelajari al Quran sangat ditekankan di bulan ini. Kepercayaan akan
adanya kitab sebelum rasul Muhammad, juga merupakan kepercayaan kepada
yang ghaib.
Kelima, ciri orang bertaqwa yang disebut Al Quran adalah orang-orang yang mempercayai akan adanya hari akhirat.
Ini berarti semakin menegaskan karakter pertama orang disebut taqwa
yaitu percaya kepada yang ghaib. Bukankah kepercayaan adanya hari
akhirat dan hari pembalasan juga termasuk kepercayaan kepada yang ghaib.
Dengan keyakinan akan adanya hari akhirat, setiap Muslim diharapkan
mempunyai semangat hidup yang optimis untuk selalu berbuat baik, dengan
harapan memperoleh pula kebaikan ketika hidup kembali setelah kematian.
Hadirin wal hadirot Jamaah Sholat Tarawih yang dimulyakan oleh Allah
Lantas apakah hubungan antara puasa dengan ketaqwaan? Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah dalam
tafsirnya mengatakan, tentang keterkaitan antara puasa dengan
ketaqwaan: “Puasa itu salah satu sebab terbesar menuju ketaqwaan. Karena
orang yang berpuasa telah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi
larangannya. Selain itu, keterkaitan yang lebih luas lagi antara puasa
dan ketaqwaan:
- Orang yang berpuasa menjauhkan diri dari yang diharamkan oleh Allah berupa makan, minum jima’ dan semisalnya. Padahal jiwa manusia memiliki kecenderungan kepada semua itu. Ia meninggalkan semua itu demi mendekatkan diri kepada Allah, dan mengharap pahala dari-Nya. Ini semua merupakan bentuk taqwa’
- Orang yang berpuasa melatih dirinya untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan menjauhi hal-hal yang disukai oleh nafsunya, padahal sebetulnya ia mampu untuk makan, minum atau berjima tanpa diketahui orang, namun ia meninggalkannya karena sadar bahwa Allah mengawasinya
- Puasa itu mempersempit gerak setan dalam aliran darah manusia, sehingga pengaruh setan melemah. Akibatnya maksiat dapat dikurangi
- Puasa itu secara umum dapat memperbanyak ketaatan kepada Allah, dan ini merupakan tabiat orang yang bertaqwa
- Dengan puasa, orang kaya merasakan perihnya rasa lapar. Sehingga ia akan lebih peduli kepada orang-orang faqir yang kekurangan. Dan ini juga merupakan tabiat orang yang bertaqwa.
Jamaah sholat tarawih yang dimulyakan Allah
Oleh
karena itu, marilah kita di bulan Ramadhan ini berusaha untuk menggapai
ketaqwaan kepada Allah. Karena hanya dengan puasa saja tanpa ada usaha
kita menuju ke ketaqwaan juga tidak akan bisa. misalnya kita hanya rajin
ibadah hanya di bulan Ramadhan saja. Setelah keluar bulan Ramadhan
ibadah kita kembali seperti semula atau bolong-bolong.
Semoga puasa kita dapat menjadi saksi dihadapan Allah tentang keimanan kita kepada-Nya. Dan semoga puasa kita mengantarkan kita menuju derajat taqwa, menjadi hamba yang mulia di sisi Allah Ta’ala.
Semoga puasa kita dapat menjadi saksi dihadapan Allah tentang keimanan kita kepada-Nya. Dan semoga puasa kita mengantarkan kita menuju derajat taqwa, menjadi hamba yang mulia di sisi Allah Ta’ala.
Kultum Tentang Generasi muda ( Nasihat Untuk Remaja Muslim )
Kami
persembahkan nasehat ini untuk saudara-saudara kami terkhusus para
pemuda dan remaja muslim. Mudah-mudahan nasehat ini dapat membuka mata
hati mereka sehingga mereka lebih tahu tentang siapa dirinya sebenarnya,
apa kewajiban yang harus mereka tunaikan sebagai seorang muslim, agar
mereka merasa bahwa masa muda ini tidak sepantasnya untuk diisi dengan
perkara yang bisa melalaikan mereka dari mengingat Allah subhanahu
wata’ala sebagai penciptanya, agar mereka tidak terus-menerus
bergelimang ke dalam kehidupan dunia yang fana dan lupa akan negeri
akhirat yang kekal abadi.
Wahai para pemuda muslim, tidakkah
kalian menginginkan kehidupan yang bahagia selamanya? Tidakkah kalian
menginginkan jannah (surga) Allah subhanahu wata’ala yang luasnya seluas
langit dan bumi?
Ketahuilah, jannah Allah subhanahu wata’ala
itu diraih dengan usaha yang sungguh-sungguh dalam beramal. Jannah itu
disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa yang mereka tahu bahwa hidup
di dunia ini hanyalah sementara, mereka merasa bahwa gemerlapnya
kehidupan dunia ini akan menipu umat manusia dan menyeret mereka kepada
kehidupan yang sengsara di negeri akhirat selamanya. Allah subhanahu
wata’ala berfirman:
“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Ali ‘Imran: 185)
Untuk Apa Kita Hidup di Dunia?
Wahai
para pemuda, ketahuilah, sungguh Allah subhanahu wata’ala telah
menciptakan kita bukan tanpa adanya tujuan. Bukan pula memberikan kita
kesempatan untuk bersenang-senang saja, tetapi untuk meraih sebuah
tujuan mulia. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat: 56)
Beribadah
kepada Allah subhanahu wata’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya
dan menjauhi semua larangan-Nya. Itulah tugas utama yang harus
dijalankan oleh setiap hamba Allah.
Dalam beribadah, kita
dituntut untuk ikhlas dalam menjalankannya. Yaitu dengan beribadah
semata-mata hanya mengharapkan ridha dan pahala dari Allah subhanahu
wata’ala. Jangan beribadah karena terpaksa, atau karena gengsi terhadap
orang-orang di sekitar kita. Apalagi beribadah dalam rangka agar
dikatakan bahwa kita adalah orang-orang yang alim, kita adalah
orang-orang shalih atau bentuk pujian dan sanjungan yang lain.
Umurmu Tidak Akan Lama Lagi
Wahai
para pemuda, jangan sekali-kali terlintas di benak kalian: beribadah
nanti saja kalau sudah tua, atau mumpung masih muda, gunakan untuk
foya-foya. Ketahuilah, itu semua merupakan rayuan setan yang mengajak
kita untuk menjadi teman mereka di An Nar (neraka).
Tahukah
kalian, kapan kalian akan dipanggil oleh Allah subhanahu wata’ala,
berapa lama lagi kalian akan hidup di dunia ini? Jawabannya adalah
sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:
“Dan tiada
seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan dilakukannya besok. Dan
tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)
Wahai
para pemuda, bertaqwalah kalian kepada Allah subhanahu wata’ala.
Mungkin hari ini kalian sedang berada di tengah-tengah orang-orang yang
sedang tertawa, berpesta, dan hura-hura menyambut tahun baru dengan
berbagai bentuk maksiat kepada Allah subhanahu wata’ala, tetapi keesokan
harinya kalian sudah berada di tengah-tengah orang-orang yang sedang
menangis menyaksikan jasad-jasad kalian dimasukkan ke liang lahad
(kubur) yang sempit dan menyesakkan.
Betapa celaka dan ruginya
kita, apabila kita belum sempat beramal shalih. Padahal, pada saat itu
amalan diri kita sajalah yang akan menjadi pendamping kita ketika
menghadap Allah subhanahu wata’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda:
“Yang mengiringi jenazah itu ada tiga: keluarganya,
hartanya, dan amalannya. Dua dari tiga hal tersebut akan kembali dan
tinggal satu saja (yang mengiringinya), keluarga dan hartanya akan
kembali, dan tinggal amalannya (yang akan mengiringinya).” (Muttafaqun
‘Alaihi)
Wahai para pemuda, takutlah kalian kepada adzab Allah
subhanahu wata’ala. Sudah siapkah kalian dengan timbangan amal yang
pasti akan kalian hadapi nanti. Sudah cukupkah amal yang kalian lakukan
selama ini untuk menambah berat timbangan amal kebaikan.
Betapa
sengsaranya kita, ketika ternyata bobot timbangan kebaikan kita lebih
ringan daripada timbangan kejelekan. Ingatlah akan firman Allah
subhanahu wata’ala:
“Dan adapun orang-orang yang berat
timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.
Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat
kembalinya adalah neraka Hawiyah. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah
itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” (Al Qari’ah: 6-11)
Bersegeralah dalam Beramal
Wahai
para pemuda, bersegeralah untuk beramal kebajikan, dirikanlah shalat
dengan sungguh-sungguh, ikhlas dan sesuai tuntunan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena shalat adalah yang pertama kali
akan dihisab nanti pada hari kiamat, sebagaimana sabdanya:
“Sesungguhnya
amalan yang pertama kali manusia dihisab dengannya di hari kiamat
adalah shalat.” (HR. At Tirmidzi, An Nasa`i, Abu Dawud, Ibnu Majah dan
Ahmad. Lafazh hadits riwayat Abu Dawud no.733)
Bagi laki-laki,
hendaknya dengan berjama’ah di masjid. Banyaklah berdzikir dan
mengingat Allah subhanahu wata’ala. Bacalah Al Qur’an, karena
sesungguhnya ia akan memberikan syafaat bagi pembacanya pada hari kiamat
nanti.
Banyaklah bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala.
Betapa banyak dosa dan kemaksiatan yang telah kalian lakukan selama ini.
Mudah-mudahan dengan bertaubat, Allah subhanahu wata’ala akan
mengampuni dosa-dosa kalian dan memberi pahala yang dengannya kalian
akan memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.
Wahai para
pemuda, banyak-banyaklah beramal shalih, pasti Allah subhanahu wata’ala
akan memberi kalian kehidupan yang bahagia, dunia dan akhirat. Allah
subhanahu wata’ala berfirman:
“Barangsiapa yang mengerjakan
amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka
sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (An
Nahl: 97)
Engkau Habiskan untuk Apa Masa Mudamu?
Pertanyaan
inilah yang akan diajukan kepada setiap hamba Allah subhanahu wata’ala
pada hari kiamat nanti. Sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam dalam salah satu haditsnya:
“Tidak
akan bergeser kaki anak Adam (manusia) pada hari kiamat nanti di
hadapan Rabbnya sampai ditanya tentang lima perkara: umurnya untuk apa
dihabiskan, masa mudanya untuk apa dihabiskan, hartanya dari mana dia
dapatkan dan dibelanjakan untuk apa harta tersebut, dan sudahkah beramal
terhadap ilmu yang telah ia ketahui.” (HR. At Tirmidzi no. 2340)
Sekarang
cobalah mengoreksi diri kalian sendiri, sudahkah kalian mengisi masa
muda kalian untuk hal-hal yang bermanfaat yang mendatangkan keridhaan
Allah subhanahu wata’ala? Ataukah kalian isi masa muda kalian dengan
perbuatan maksiat yang mendatangkan kemurkaan-Nya?
Kalau
kalian masih saja mengisi waktu muda kalian untuk bersenang-senang dan
lupa kepada Allah subhanahu wata’ala, maka jawaban apa yang bisa kalian
ucapkan di hadapan Allah subhanahu wata’ala Sang Penguasa Hari
Pembalasan? Tidakkah kalian takut akan ancaman Allah subhanahu wata’ala
terhadap orang yang banyak berbuat dosa dan maksiat? Padahal Allah
subhanahu wata’ala telah mengancam pelaku kejahatan dalam firman-Nya:
“Barangsiapa
yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan
kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong
baginya selain dari Allah.” (An Nisa’: 123)
Bukanlah masa tua
yang akan ditanyakan oleh Allah subhanahu wata’ala. Oleh karena itu,
pergunakanlah kesempatan di masa muda kalian ini untuk kebaikan.
Ingat-ingatlah
selalu bahwa setiap amal yang kalian lakukan akan dipertanggungjawabkan
kelak di hadapan Allah subhanahu wata’ala.
Jauhi Perbuatan Maksiat
Apa
yang menyebabkan Adam dan Hawwa dikeluarkan dari Al Jannah (surga)?
Tidak lain adalah kemaksiatan mereka berdua kepada Allah subhanahu
wata’ala. Mereka melanggar larangan Allah subhanahu wata’ala karena
mendekati sebuah pohon di Al Jannah, mereka terbujuk oleh rayuan iblis
yang mengajak mereka untuk bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala.
Wahai
para pemuda, senantiasa iblis, setan, dan bala tentaranya berupaya
untuk mengajak umat manusia seluruhnya agar mereka bermaksiat kepada
Allah subhanahu wata’ala, mereka mengajak umat manusia seluruhnya untuk
menjadi temannya di neraka. Sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala
jelaskan dalam firman-Nya (yang artinya):
“Sesungguhnya setan
itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena
sesungguhnya setan-setan itu mengajak golongannya supaya mereka menjadi
penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)
Setiap amalan
kejelekan dan maksiat yang engkau lakukan, walaupun kecil pasti akan
dicatat dan diperhitungkan di sisi Allah subhanahu wata’ala. Pasti
engkau akan melihat akibat buruk dari apa yang telah engkau lakukan itu.
Allah subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya):
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apapun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (Az Zalzalah:
Setan
juga menghendaki dengan kemaksiatan ini, umat manusia menjadi terpecah
belah dan saling bermusuhan. Jangan dikira bahwa ketika engkau bersama
teman-temanmu melakukan kemaksiatan kepada Allah subhanahu wata’ala, itu
merupakan wujud solidaritas dan kekompakan di antara kalian.
Sekali-kali tidak, justru cepat atau lambat, teman yang engkau cintai
menjadi musuh yang paling engkau benci. Allah subhanahu wata’ala
berfirman:
“Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak
menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu karena (meminum)
khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan
shalat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan perbuatan itu).” (Al
Maidah: 91)
Demikianlah setan menjadikan perbuatan maksiat
yang dilakukan manusia sebagai sarana untuk memecah belah dan
menimbulkan permusuhan di antara mereka.
Ibadah yang Benar Dibangun di atas Ilmu
Wahai
para pemuda, setelah kalian mengetahui bahwa tugas utama kalian hidup
di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala
semata, maka sekarang ketahuilah bahwa Allah subhanahu wata’ala hanya
menerima amalan ibadah yang dikerjakan dengan benar. Untuk itulah wajib
atas kalian untuk belajar dan menuntut ilmu agama, mengenal Allah
subhanahu wata’ala, mengenal Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, dan
mengenal agama Islam ini, mengenal mana yang halal dan mana yang haram,
mana yang haq (benar) dan mana yang bathil (salah), serta mana yang
sunnah dan mana yang bid’ah.
Dengan ilmu agama, kalian akan
terbimbing dalam beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala, sehingga
ibadah yang kalian lakukan benar-benar diterima di sisi Allah subhanahu
wata’ala. Betapa banyak orang yang beramal kebajikan tetapi ternyata
amalannya tidak diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala, karena
amalannya tidak dibangun di atas ilmu agama yang benar.
Oleh
karena itu, wahai para pemuda muslim, pada kesempatan ini, kami juga
menasehatkan kepada kalian untuk banyak mempelajari ilmu agama, duduk di
majelis-majelis ilmu, mendengarkan Al Qur’an dan hadits serta nasehat
dan penjelasan para ulama. Jangan sibukkan diri kalian dengan hal-hal
yang kurang bermanfaat bagi diri kalian, terlebih lagi hal-hal yang
mendatangkan murka Allah subhanahu wata’ala.
Ketahuilah,
menuntut ilmu agama merupakan kewajiban bagi setiap muslim, maka
barangsiapa yang meninggalkannya dia akan mendapatkan dosa, dan setiap
dosa pasti akan menyebabkan kecelakaan bagi pelakunya.
“Menuntut ilmu agama itu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah no.224)
Akhir Kata
Semoga
nasehat yang sedikit ini bisa memberikan manfaat yang banyak kepada
kita semua. Sesungguhnya nasehat itu merupakan perkara yang sangat
penting dalam agama ini, bahkan saling memberikan nasehat merupakan
salah satu sifat orang-orang yang dijauhkan dari kerugian, sebagaimana
yang Allah subhanahu wata’ala firmankan dalam surat Al ‘Ashr:
“Demi
masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat-
menasehati dalam kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi
kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3)
Wallahu ta‘ala a’lam bishshowab.
Kultum Tentang Akhlaq
KEUTAMAAN ORANG JUJUR
Ciri
utama seorang muslim adalah jujur. Bukanlah dikatakan muslim sejati
jika seorang masih berbohong dan menipu. Rasulullah saw dalam
kehidupannya sehari – hari dikenal sebagai orang yang dapat dipercaya.
Karena itu jujur merupakan akhlak yang sangat baik dan indah menurut
pandangan Allah.
Sesungguhnya jika kita hidup di dunia ini
memelihara kejujuran, maka kedamaian akan dapat dirasakan oleh umat
manusia. Orang – orang yang selalu bersikap jujur dalam setiap tindakan
dan ucapan, maka ia termasuk golongan yang beruntung. Artinya, ia
beruntung di dunia dan beruntung di akhirat.
Kita semua tentu
sangat setuju bahwa jujur merupakan budi pekerti yang mulia. Kejujuran
dapat membimbing manusia menuju kebaikan. Apabila seseorang telah jujur
dan mampu menempatkan suatu kebaikan, maka ia terbimbing menuju ke
surgabukankah Rasulullah swa telah bersabda: “Sesungguhnya kejujuran
membimbing kea rah kebaikan. Dan kebaikan itu membimbingnya ke surge.
Sesorang yang jujur, maka hingga di sisi Allah ia akan menjadi orang
yang jujur dan benar. Sedangkan sifat dusta membimbing orang pada
kejahatan. Lalu kejahatan itu menyeret ke neraka. Sesorang yang biasa
berdusta, maka hingga di sisi Allah kelak tetap menjadi pendusta”. (HR
Bukhari Muslim)
Orang yang suka berterus terang dan jujur
dalam segala hal kehidupan ini, maka ia termasuk memiliki sifat
kenabian. Sebab tentu saja orang – orang yang jujur ini suka sekali
dengan kebenaran. Karena sukanya. Maka ia selalu memelihara akhlaknya
diri dari dusta. Karena itu ia cenderung untuk melakukan kebaikan dan
menegakkan kebenaran agama.
Allah berfirman : Dan
sebutkanlah dalam Al Kitab tentang Ibrahim, bahwa ia adalah seseorang
yang benar dan jujur, lagi pula seorang nabi. (Q. S. Maryam ayat 41).
Kejujuran
itu dekat dengan kebenaran. Kebenaran adalah sesuatu yang disenangi
Allah. Jika Allah senang, maka pastilah dia akan mengasihi. Dan hambaNya
yang jujur, maka kelak di hari kiamat akan disediakan tempat yang
menyenangkan yaitu surga.
PENUTUP
Demikianlah kultum yang dapat saya sampaikan semoga bermanfaat bagi hadirin semua, jika ada kekuragan saya mohon maaf.
Pilih kalimat penutupnya
- Taqabbalallaahu minna waminkum taqabbal yaa kariimu, wassalaamu' alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
- Artinya:
"Semoga Allah menerima (apa-apa) yang datangnya dari kami dan dari
kalian semua. Engkaulah yang menerima wahai dzat yang Maha Mulia. Dan
semoga keselamatan, kesejahteraan, dan keberkahan tetap tercurahkan
kepada kita semua"
- Ihdinash shiraathal mustaqiim, akhiirul kalaami wassalaamu' alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh.
semoga apa yang kami sampakain bermanfaat bagi kita semua .
Amiin...amiin ya robbal'alamiin







0 komentar:
Post a Comment